0751-444-726
Akademi Perekam dan Informasi
Kesehatan (APIKES) Iris
Administrator Informasi Kesehatan

Profesional di bidang Rekam Medis, atau sekarang disebut Administrator
Informasi Kesehatan (AIK) sangat penting dalam masa pembangunan
kesehatan yang mengandalkan profesionalisme, terutama kalau Undang-
undang Perlindungan Konsumen telah berjalan efektif. Kehadiran profesi
ini diperlukan untuk memastikan bahwa semua kegiatan asuhan
kesehatan oleh dokter terdokumentasi dengan baik, sehingga sarana
pelayanan kesehatan (SPK) terlindung dari tuntutan hukum  telah
semakin sering dilakukan terhadap mereka.

Secara resmi, setiap rumah sakit tipe A harus memiliki minimal enam AIK,
tipe B minimal empat AIK, tipe C 3 AIK dan tipe D 2 AIK. Untuk memenuhi
kebutuhan minimal ini, diperluka lebih dari 20.000  profesional AIK di
seluruh Indonesia. Akan tetapi, kebutuhan yang sesungguhnya jauh
lebih besar dari jumlah tersebut karena seyogyanya setiap bangsal
perawatan di SPK memiliki seorang AIK atau lebih.

Profesi AIK berperan sebagai pendamping dokter di bidang rekam
medis, sebagaimana perawat atau bidan, petugas laboratorium dan
rontgen. Jabatan fungsional perekam medis  diberlakukan 1 Oktober
2003, dengan syarat minimal ijazah Diploma III Ilmu Rekam Medis. Hal ini
tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
No. 135/KEP/M.PAN/12/2002 tanggal 3 Desember 2002 tentang Jabatan
Fungsional Perekam Medis dan Angka Kreditnya. Menteri Kesehatan
dan Kepala Badan Kepegawaian Negara melalui Keputusan Bersama
(No. 048/MENKES/SKB/2003 dan No. 02 Th 2003) tanggal 20 Januari
2003 menetapkan bahwa kenaikan pangkat Perekam Medis di
lingkungan Departemen dan Dinas-dinas Kesehatan, harus mengacu
kepada angka kredit sejak 1 Oktober 2003.

Tugas AIK dalam pelayanan rekam medis pasien mencakup:
  1. Pemberian nomor rekam medis, pengambilan data, dan pengisian
    buku register pasien, serta menyiapkan indeks pasien,
    penyakitnya, dan dokter yang merawatnya.
  2. Pengelolaan buku rekam medis (“buku status penyakit”) pasien
    agar isinya lengkap dan benar.
  3. Analisis terhadap diagnosis dan pengkodean penyakit sesuai
    dengan pedoman internasional yang ditetapkan oleh badan
    kesehatan sedunia, WHO.
  4. Penyimpanan rekam medis sedemikian rupa sehingga mudah
    untuk diambil ketika pasien datang untuk berobat kembali.
  5. Penyimpanan data utama pasien di komputer, dan mengolahnya
    secara statistik untuk menghasilkan laporan berkala rumah sakit
    ke dinas kesehatan.
Apikes IRIS on Facebook