APIKES
AKADEMI PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN
[ACADEMY OF MEDICAL RECORD AND INFORMATION]
Program Studi Diploma III - Ilmu Rekam Medis
PROFESI REKAM MEDIS
Rekam medis adalah profesi yang sangat penting dalam masa-masa pembangunan kesehatan yang
mengandalkan profesionalisme, terutama ketika Undang-undang Perlindungan Konsumen telah
berjalan efektif. Kehadiran profesi ini lebih diperlukan karena tuntutan hukum  telah semakin sering
dilakukan terhadap dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan. Setiap rumah sakit tipe A harus
memiliki minimal enam profesional rekam medis, sedangkan rumah sakit tipe B minimal empat orang.
Untuk memenuhi kebutuhan ini, sekitar 20.000 lapangan pekerjaan terbuka untuk profesional rekam
medis seluruh Indonesia.


Profesi rekam medis memiliki peran yang setara dengan tenaga kesehatan lain, seperti perawat
atau bidan, petugas rontgen, petugas laboratorium, dan sebagainya. Jabatan fungsional perekam
medis telah diberlakukan sejak 1 Oktober 2003, dengan syarat minimal memiliki ijazah Diploma III
Ilmu Rekam Medis. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
tanggal 3 Desember 2002 tentang Jabatan Fungsional Perekam Medis dan Angka Kreditnya (No.
135/KEP/M.PAN/12/ 2002). Menteri Kesehatan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara tanggal 20
Januari 2003 melalui Keputusan Bersama (No. 048/MENKES/SKB/2003 dan No. 02 Th 2003)
menetapkan bahwa kenaikan pangkat Perekam Medis di lingkungan Departemen dan Dinas-dinas
Kesehatan, harus mengacu kepada angka kredit sejak 1 Oktober 2003.

Tugas profesi rekam medis dalam pelayanan rekam medis pasien mencakup:
  1. Pemberian nomor rekam medis, pengambilan data, dan pengisian buku register pasien, serta
    menyiapkan indeks pasien, penyakitnya, dan dokter yang merawat.
  2. Pengelolaan buku rekam medis (“buku status penyakit”) pasien sehingga isinya lengkap dan
    benar, mengingat isi rekam medis adalah bukti hukum pelayanan rumah sakit kepada pasien.
  3. Analisis terhadap diagnosis dan pengkodean penyakit sesuai dengan pedoman internasional
    yang ditetapkan oleh badan kesehatan sedunia, WHO.
  4. Penyimpanan rekam medis sedemikian rupa sehingga mudah untuk diambil ketika pasien
    datang untuk berobat kembali.
  5. Penyimpanan data utama pasien di komputer, dan mengolahnya secara statistik untuk
    menghasilkan laporan berkala rumah sakit ke dinas kesehatan.